Berita Pendidikan di Indonesia
Berita 1 :
Pelajar Palembang Ciptakan Papan Partikel Tahan Api
Liputan6.com, Palembang
Kreativitas pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) di Palembang dalam riset ilmu fisika kembali mendapatkan penghargaan. Kali ini, siswa SMA Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) mendapat Gold Medal di ajang Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) pada Febuari 2017 lalu.
Jaya Firmansyah, siswa kelas 11 dan Surya Bima Wicaksana, siswa kelas 10 SMAN Sumsel berhasil membuat papan partikel dari limbah tumbuhan. Bahkan, papan partikel yang dibuatnya kedua siswa berprestasi ini bisa tahan api.
Bahan yang digunakan adalah sabut kelapa limbah tongkol jagung yang didapat di pasar tradisional dekat sekolah. Kedua bahan ini dicampur dengan Aquadest dan Lem VVIC, lalu dipadatkan dan membentuk prototype papan partikel berdiameter 9 cm.
Untuk mendapatkan partikel terkecil, limbah tongkol jagung diparut, diblender dan disaring. Seluruh bahan dicampur, dicetak, dan dimasukkan ke dalam oven agar mengeras.
"Biasanya papan partikel sering dibuat dari sekam padi. Tapi kita mengantinya dengan bahan yang lebih tahan lama dan ada keunggulannya," ujar Surya Bima Wicaksana kepada Liputan6.com, saat dijumpai di Laboratorium Fisika SMAN Sumsel, Rabu5 April 2017.
Untuk membuat papan partikel tersebut tahan api, mereka mengoleskan Natrium Silikat (Na2SiO3) ke seluruh lapisan papan partikel. Papan partikel tersebut lalu dikeringkan di suhu ruangan.
Saat dilakukan tes uji bakar, lapisan Natrium Silikatnya menghambat api membakar papan partikel. Bahkan, apinya hanya berkobar di satu titik dan hanya menyisakan noda putih.
Mereka juga sudah menguji ketahanan papan partikelnya di laboratorium Politeknik Sriwijaya Palembang. Hasil uji tariknya yaitu 11 Kg/detik, Uji pantul 3.220 Newton dan uji lentur 17,5 Persen.
"Hasil uji tarik dan uji tekan papan partikel kita sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI)," ungkapnya.
Fadli Ardiano, Asisten Laboratirium Fisika SMAN Sumsel mengatakan, hasil karya siswa ini akan dilombakan di ajang internasional.
"Kita akan membuat video dokumentasi tentang riset papan partikel tahan api ini. Nanti dokumennya akan dikirim ke panitia di Belanda. Hasilnya akan diumumkan di bulan Juni 2017 mendatang," katanya.
(http://regional.liputan6.com/read/2910945/pelajar-palembang-ciptakan-papan-partikel-tahan-api)
Berita 2 :
Membanggakan Ada Mahasiswa Indonesia Di Pusat Penelitian Dunia
Liputan6.com, Jakarta Tak hanya kaya akan keindahan alam, Indonesia juga kaya akan sumber daya manusia yang mengagumkan. Tidak bisa dilihat sebelah mata, salah satu generasi muda Indonesia bahkan berhasil bergabung dengan pusat penelitian sains terbesar di dunia.
Mahasiswa Teknik Komputer Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) I Made Sanadhi Sutandi berhasil mewakili Indonesia untuk berpartisipasi dalam kegiatan “OpenLab Summer Research Program 2016” di CERN - salah satu Pusat Riset Komputasi & Partikel Fisika terbesar di dunia.
Sanadhi (21) berhasil menggungguli 1.461 mahasiswa lainnya dari seluruh dunia ini, akan terlibat secara langsung dalam proyek pengembangan sistem IT selama delapan minggu mulai dari 20 Juni hingga 21 Agustus 2016 di Jenewa, Swiss.
CERN (Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire) atau dalam bahasa Indonesia berarti Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir telah memberikan sumbangsih dan kontribusi nyata terhadap ilmu pengetahuan, diantaranya teknologi www (web) yang saat ini sudah menjadi bagian besar dalam kehidupan manusia.
Selain itu, CERN juga berkontribusi pada penemuan partikel Higgs Boson yang mendapatkan hadiah Nobel Fisika tahun 2013 serta penemuan Super Symmetry dan Quark-Gluon Plasma yang menunjukkan fenomena pembentukan alam semesta.
Sanadhi, menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Selasa (19/4/2016) mengatakan, “Pencapaian ini merupakan peluang emas karena saya dapat belajar langsung dengan para pakar di bidang teknologi serta melihat dan merasakan langsung teknologi dan inovasi yang ada diseluruh dunia. Saya yakin dan mantap untuk menyerap ilmu dan membangun network sebanyak-banyaknya saat bekerja disana agar ilmu pengetahuan ataupun hardskill dan softskill saya dapat teruji dengan baik."
Lebih lanjut, Sanadhi mengungkapkan selama kegiatan berlangsung, ia akan memperoleh sejumlah topik perkuliahan serta dilibatkan langsung pada proyek penelitian bersama dengan peneliti CERN. Hal ini dilakukan untuk mendalami domain keilmuan yang menjadi kebutuhan utama pada infrastruktur IT seperti Data Acquisition, Computing Platforms, Data Storage Architectures, Compute Provisioning and Management, Networks and Communication dan Data Analytics. Indonesia bangga memiliki generasi muda berprestasi.
(http://lifestyle.liputan6.com/read/2487079/membanggakan-ada-mahasiswa-indonesia-di-pusat-penelitian-dunia)
Berita 3 :
Lewat Dongeng Siswa Diajari Tentang Proses Pengolahan Minyak
BALIKPAPAN, KOMPAS.com – Yoga Pratama memainkan boneka tangan katak hijau di hadapan siswa kelas 2 di SD 008 di Balikpapan Tengah, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Dodo, begitu pekerja bagian hydro cracking complex (HCC) atau destilasi minyak di Kilang Minyak Balikpapan PT Pertamina (Persero) ini menamai si katak hijau.
Si Dodo menjelaskan bagaimana panjangnya perjalanan minyak itu dari mulai disedot dari dalam sumur, mengalir hingga kilang pengolahan, lantas jadi minyak siap didistribusi di stasiun pengisian bahan bakar umum.
Dodo yang imut di tangan Yoga tidak membuat kantuk. Anak-anak tergoda mendekat, melihat dari dekat dan mendengarkan cerita tentang Pertamina dan perannya pada masyarakat.
“Kalau ditanya, anak-anak semula tahunya Pertamina itu hanya tukang isi bensin di SPBU. Kini kita bangun pengetahuan dan sekaligus brand image bahwa kita ini perusahaan nasional yang memiliki bidang luas,” kata Yoga, Senin (8/5/2017).
Yoga, satu dari 85 relawan Pertamina yang mendadak jadi guru singkat di lima sekolah dasar di Balikpapan, Senin siang. Mereka mendatangi SD Patra Dharma 3, SDN 8 Balikpapan Tengah, SDN 1 Balikpapan Tengah, SDN 5 Balikpapan Barat dan SDN 9 Balikpapan Barat.
Yoga mengatakan, para relawan itu tengah menjalani program Pertamina Energi Negeri (PEN) 2 yang juga berlangsung di delapan lokasi operasional Pertamina lain, yakni: Palembang, Jakarta, Indramayu, Surabaya, Semarang, Makassar, Jayapura, dan Sorong.
PEN melibatkan lebih dari 500 pekerja dari berbagai direktorat di Pertamina hingga anak perusahaan di sembilan kota itu. “Di sini bahkan ada yang datang dari Kalimantan Tengah,” kata Yoga.
Area Manager Communication & Relations Pertamina Kalimantan, Alicia Irzanova mengatakan, kegiatan ini menjadi agenda tahunan pekerja Pertamina sebagai kontribusi langsung pada masyarakat. Para pekerja membagi pengetahuan, mengenal profesi, menanamkan budi pekerti serta budaya safety yang disampaikan dengan cara menarik dan menyenangkan.
“Kegiatan ini juga memperkenalkan para relawan akan kenyataan dan fakta mengenai kondisi pendidikan Indonesia,” kata Alicia.
PEN, menurut Alicia, menjadi sebuah ajakan bagi pekerja Pertamina dan anak usahanya untuk bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan. Dengan kegiatan ini, para pekerja pun kian terpanggil untuk ikut memajukan pendidikan Indonesia serta menumbuhkan kecintaan terhadap negeri.
Selain itu, relawan bisa terbina melakukan aktivitas bermanfaat di luar jam kerjanya.
“Karenanya kegiatan sukarela ini diinisiasi secara murni oleh pekerja-pekerja Pertamina,” katanya.
Relawan itu tidak langsung terjun begitu saja. Para relawan harus melewati pembekalan product knowledge hingga soal public speaking.
(http://regional.kompas.com/read/2017/05/08/19312061/lewat.dongeng.siswa.sd.diajari.tentang.proses.pengolahan.minyak)
Berita 4 :
Bocah-Bocah Ini Belajar Sambil Menggendong Adiknya
MEDAN, KOMPAS.com – Boisman Gori, baru duduk di kelas lima sekolah dasar. Setiap masuk ke kelas tak jarang dia sambil menggendong adiknya.
Gori tinggal di Puncak Lolomatua, dataran tertinggi di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.
"Saat saya mengajar, dia (Gori) selalu memeluk dan mencium kepala adiknya,” cerita Indri Rosidah, kepada Tribun Medan, Selasa (2/5/2017).
Indri merupakan alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang sedang mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) yang mengajar di Puncak Lolomatua.
Selain Gori, di tempat perempuan asal Bandung ini mengajar, ada Latina Ndruru. Bocah perempuan ini juga kerap membawa adik bungsunya ke sekolah.
Latina anak ketiga dari tujuh bersaudara, kehidupan orangtuanya cukup memperihatinkan.
“Lantai rumah orang tuanya Latina masih tanah. Artinya, tidak gunakan semen sebagaimana rumah kebanyakan orang. Kemudian dinding rumahnya masih tepas, beratap rumbia dan rumah mereka paling dekat dengan sekolah ini,” kata Rosidah.
Dibandingkan Latina, rumah Gori cukup lumayan, karena sudah berlantai semen dan beratap seng. Gori dan Latina membawa adik mereka ke sekolah bila kedua orangtua mereka ke ladang untuk menyadap getah ataupun pergi ke pasar.
"Anaknya penuh kesadaran, dan tabah hidup dalam keadaan serba kekurangan. Saya terkesima melihat kondisi siswa-siswi di sini,” sebut Indri.
Boisman Gori, siswa kelas V SD Puncak Lolomatua, Ulonoyo, Kabupaten Nias Selatan, kerap membawa menggendong adiknya ke sekolah, sementara orangtuanya menyadap karet atau pergi ke pasar.
Boisman Gori, siswa kelas V SD Puncak Lolomatua, Ulonoyo, Kabupaten Nias Selatan, kerap membawa menggendong adiknya ke sekolah, sementara orangtuanya menyadap karet atau pergi ke pasar. ( TRIBUN MEDAN/JEFRI SUSETIO)
Jarang yang Berbahasa Indonesia
Indri mengaku masyarakat yang sangat ramah dan menghormati pendatang berbeda suku dan keyakinan, membuatnya kerasan mengajar di Puncak Lolomatua.
“Saya menikmati suasana di sini, kebetulan saya tinggal di rumah warga dan respons masyarakat sangat bagus," sebutnya.
"Saya orang pertama Muslim yang tinggal di kampung ini. Awalnya takut tapi alhamdulilah, tidak ada kesulitan apapun,” tambah dia.
Sudah delapan bulan dia menjadi peserta program SM3T dan mengajar di Puncak Lolomatua. Selama itu ia sedikitnya memahami bahasa lokal. Awal mengajar, bukan main bingungnya Indri karena banyak murid tak bisa berbahasa Indonesia.
Berbilang hari, minggu dan bulan, Indri paham murid-murid tak pandai berbahasa Indonesia karena orang tua mereka pun tak bisa. Hanya mereka sering bepergian ke kota yang dapat berbahasa Indonesia.
(http://regional.kompas.com/read/2017/05/03/12120021/bocah-bocah.ini.belajar.di.sekolah.sambil.menggendong.adiknya)
Berita 5 :
Kado Tas Presiden Jokowi di Perbatasan
Liputan6.com, Jakarta - "Pak Jokowi, minta tas," pesan singkat dari siswa Sekolah Dasar Negeri 4 di Desa Sungkung, Kecamatan Siding, Kabupaten, Bengkayang, Kalimantan Barat. Para siswa SD di perbatasan ini mengharapkan sedikit bantuan dari sang Presiden untuk membelikan mereka sebuah tas.
Potret miris di Tanah Air, ketika banyak anak memiliki beberapa tas sekolah di rumahnya yang terpajang tak terpakai, tetapi anak-anak di perbatasan ini tidak memiliki satu tas pun untuk membawa keperluan belajar mereka ke sekolah.
Kondisi ini terkuak ketika seorang guru bantu untuk wilayah perbatasan melalui akun Instagram @anggitpurwoto mengunggah video siswa SDN 4 Sungkung yang meminta tas tersebut.
Dengan balutan seragam yang sudah lusuh, Revan, Heri Aprianto, Jhembo, Eligen Thomas menyampaikan harapannya memiliki tas sekolah. Keempat siswa ini terlihat menjinjing kantong plastik kresek menggantikan tas sekolah dan hanya menggunakan sandal jepit.
Mendadak, video ini menjadi viral di media sosial. Rupanya, video 'Minta Tas' ini juga dilihat Presiden Jokowi. Bak gayung bersambut, Jokowi segera meminta sekretarisnya menyiapkan kado tas dan perlengkapan sekolah lainnya untuk siswa-siswa SD perbatasan ini.
(http://news.liputan6.com/read/2919781/kado-tas-presiden-jokowi-di-perbatasan)
Berita 6 :
42.622 Siswa SD/Madrasah di Surabaya Siap US, Dindik Ingatkan seperti ini kepada Penyelenggara
Selasa, 9 Mei 2017 20:02
surya/sulvi sofiana
Kepala Dinas Pendidikan M Iksan dalam sebuah kesempatan.
SURYA.co.id | SURABAYA - Ujian Sekolah (US) tingkat sekolah dasar dan masdrasah akan dilaksanakan pada Senin (15/5/2017). US tahun ini diikuti 860 lembaga, Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Surabaya Jumat besok (12/5/2017) akan mulai menerima soal ujian.
“Soal US akan dipilah per sekolah dan per subrayon, selanjutnya akan disimpan sementara di polsek. Dan pada pelaksanaan hari H-nya nanti sub rayon mendistribusikan soal ke sekolah-sekolah,” Jelas Kepala Dindik Kota Surabaya, Ikhsan, Selasa (9/5/2017).
Mantan Kepala Bapemas dan KB Kota Surabaya tersebut menerangkan pelaksanaan US di Surabaya diikuti 42.622 siswa.
Ia pun berpesan juga agar para siswa tetap menjaga nilai-nilai kejujuran (integritas) selama pelaksananaan US/M meskipun masih berbasis kertas.
“Pada pelaksanaan US nanti diingatkan kepada ketua sub rayon, kepala sekolah, dan pengawas ruangan agar menjalankan POS dengan baik,”tegasnya ketika dikonfirmasi SURYA.co.id, Selasa (9/5/2017).
Kasi Kurikulum Sekolah Dasar Munaiyah berujar pembuatan soal US telah melewati berbagai tahapan.
Apalagi Dindik ikut membuat naskah soal tersebut. Mulai dari penyusunan soal, review soal, sampai dengan evaluasi soal dilakukan oleh tim yang sudah disiapkan.
“Untuk persiapan ujian sekolah ini, para siswa juga telah melakukan latihan try out, baik yang melalui try out online Dindik ataupun latihan try out bersama guru di sekolah. Dindik sebelumnya juga telah menyediakan 34 paket soal latihan try out online,”lanjutnya.
(http://surabaya.tribunnews.com/2017/05/09/42622-siswa-sdmadrasah-di-surabaya-siap-us-dindik-ingatkan-seperti-ini-kepada-penyelenggara)
Berita 7 :
Cara Unik Siswa SAIM Peringati Hari Buku Dunia, begini Bentuknya
Selasa, 25 April 2017 20:34
surya/habibur rohman
BUKU & PERMAIANAN - Siswa menyumbangkan buku serta melanjutkan mengikuti permainan di Sekolah Alam Insan Mulia (Saim) Surabaya,Selasa (25/4/2017).
SURYA.co.id | SURABAYA - Suasana layaknya taman bermain terlihat di halaman Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM), Selasa (25/4/2017).
Berbeda dengan taman bermain yang berisi mainan jungkat-jungkit dan ayunan.
Para siswa bermain permainan bowling, lempar cincin, dan engklek.
Setiap berhasil bermain mereka bisa mendapat beragam hadiah. Mulai dari penghapus, pensil, buku, dan lainnya.
Untuk bermain mereka harus membawa tiket, tiket inilah kunci kegiatan diadakan Achmad Tsaqib Arifudin, siswa kelas 2 SMA SAIM dan 11 temannya.
Untuk mendapat tiket ini, setiap siswa harus menyumbangkan 1 buku bacaan.
Mulai dari buku pelajaran, dongeng, cerita anak-anak, hingga komik.
“Sekalian memperingati hari buku, kami ingin menggalang sumbangan buku perpustakaan di Ranu Pane,” jelasnya, Selasa (25/4/2017).
Mengambil nama kegiatan Ruang Baca Tanpa Batas, Tsaqib dan teman-temannya ingin meningkatkan mibat baca di kawadan Ranu Pane, Lumajang.
Pasalnya, setiap tahun, siswa SAIM melakukan pendakian melewati Ranu Pane. Mereka hanya melihat 1 sekolah untuk siswa SD,SMP dan TK.
“Kami survei kesana, ada 6 kelas disana. 1 ruang guru dan 1 perpustakaan. Kalau kondisi sekolah dan perpus memang sangat kurang, bangku banyak yang rusak,” jelasnya.
Mereka akhirnya berinisiatif secara berkala membantu sekolah tersebut. Mulai dari menambah buku di perpustakaan dengan sumbangan siswa SAIM.
Selain itu mereka juga membuat proposal pada pihak luar agar mendapat dana bantuan atau tambahan buku.
“Kalau dapat uang juga akan kami belikan perlengkapan buat perpustakaan. Disana nggak ada lemari juga,”terangnya.
Penanggung jawab acara, Febriana Adam, menjelaskan kegiatan siswa ini dilakukan sebagai proyek yang menjadi tugas siswa.
Mereka bisa melakukan beragam kegiatan,kewirausahaan charity dna lainnya. Setiap Jumat siswa SMA SAIM memiliki waktu 6 jam untuk mendiskusikan proyek mereka.
“Kami para guru hanya membimbing, idenya semua dari mereka. Seperti kegiatan kali ini metrka ingin membantu siswa di daerah lain yang membutuhkan dengan melibatkan seluruh warga SAIM,”jelasnya.
(http://surabaya.tribunnews.com/2017/04/25/cara-unik-siswa-saim-peringati-hari-buku-dunia-begini-bentuknya?page=2)
Berita 8 :
Siswa SD Datangi Pedagang Pasar Ucapkan Selamat Hari Kartini Sembari Lakukan Ini
Jumat, 21 April 2017 11:56
surya/ahmad zaimul haq
Salah seorang siswa memberikan bingkisan sembako kepada pedagang perempuan, Jumat (21/4/2017).
SURYA.co.id | SURABAYA - Pasar Krempyeng Bendul Merisi Besar Selatan, Surabaya didatangi 150 siswa SD Muhammadiyah 6 Surabaya, Jumat (21/4/2017).
Mereka tidak berbelanja, namun siswa-siswa ini sengaja menemui para pedagang perempuan untuk memberikan sebuah bingkisan.
Mereka menyusur pasar lengkap dengan pakaian kebaya dan batik.
Salah satu siswa kelas lima, Alya Wahyu menghampiri Maftuha, seorang pedagang ayam potong. Alya memberikan sebuah bingkisan (sembako) dan mengucapkan "Selamat Hari Kartini".
"Selamat Hari Kartini ya bu," kata Alya, lalu disambut senyum dan ucapan terima kasih dari Maftuha.
Perayaan Hari Kartini, Siswa SD Muhammadiyah 6 memang berbeda.
Muhammad Askan, ketua panitia acara menuturkan, melalui berbagi semacam ini, anak-anak bisa mengerti peran Kartini secara utuh.
"Sebelumnya kami mengajak beberapa anak untuk observasi ke pasar. Lalu anak-anak menyimpulkan para pedagang itu juga sepatutnya merayakan Hari Kartini. Mengingat perannya yang besar, mencari nafkah untuk keluarga," jelasnya.
Askan menambahkan sebelum sampai di pasar, 400 siswa di antaranya siswa kelas satu sampai enam melakukan long march, memakai busana adat Jawa.
Rutenya mulai sekolah, RSAL, pasar Krempyeng dan kembali ke sekolah lagi.
"Di pertengahan jalan siswa kelas satu sampai kelas empat, kembali ke sekolah. Sementara kelas lima dan enam berbagi bingkisan ke pasar," terangnya.
Bingkisan yang mereka bawa bermacam. Ada sembako, kerudung, aksesoris, dan masih banyak lagi.
Aksan menerangkan sekolah memang tidak menentukan barang apa yang harus dibawa.
"Kami hanya memberikan minimal harga karena tidak semua orangtua wali murid sama mampunya. Selain bingkisan mereka juga menyematkan surat. Isinya adalah doa, misalnya surat milik Alya. Dia berdoa agar ibu itu diberikan kesehatan dan kekuatan menjalankan ibadahnya mencari nafkah," tutupnya.
(http://surabaya.tribunnews.com/2017/04/21/siswa-sd-datangi-pedagang-pasar-ucapkan-selamat-hari-kartini-sembari-lakukan-ini)
Berita 9 :
Sampahnya Ganggu Sekolah, Cito Disidak Dewan
Andy Satria/Radar Surabaya
TUTUP HIDUNG: Sejumlah siswa kelas VI SDN Dukuh Menanggal I terpaksa menutup hidung saat mengikuti kegiatan belajar di kelas, Selasa (6/9), karena terganggu bau tak sedap dari pengelolaan limbah sampah di Cito .
SURABAYA – Dianggap tak memperhatikan lingkungan dalam pengolahan limbahnya, manajemen mal City of Tomorrow (Cito) dilaporkan ke DPRD Surabaya. Untuk merespons laporan itu, Selasa (6/9), Komisi D melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SDN Dukuh Menanggal I di Jalan Dukuh Menanggal, Gayungan, Surabaya.
Hasilnya, komisi bidang kesejahteraan rakyat (kesra) itu menemukan di kelas V dan VI tercium bau tak sedap yang berasal dari samping sekolah yang berdekatan dengan tempat pembuangan limbah dan sampah milik pusat perbelanjaan di kawasan bundaran Waru tersebut.
“Baunya bikin muntah. Kayak bau bensin, solar dan sampah bekas makanan, bahkan kotoran manusia. Pernah kami sampai tidak bisa masuk kelas gara-gara bau tidak enak seperti ini,” keluh Rini Ardianti, 10, siswi kelas V B.
Bahkan akibat bau yang tidak nyaman itu, ada beberapa rekannya yang mual-mual dan muntah. Beberapa bahkan mengeluhkan pusing dan sesak napas. Menurut dia, bau tak sedap itu biasa muncul pada waktu jam-jam pelajaran mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.
Kepala SDN Dukuh Menanggal I Umitrah mengatakan bahwa sebenarnya pihak sekolah sudah mendatangi manajemen Cito, beberapa bulan lalu, untuk menyampaikan keluhan bau tak sedap tersebut.
Namun, pihak manajemen Cito tak memperbaiki sistem pengolahan limbahnya. Sebaliknya, pihak manajemen malah mendatangi sekolah dan memberikan bantuan empat unit alat pendingin udara (AC). Hingga akhirnya, pihak sekolah memutuskan mengirim surat laporan resmi ke DPRD Surabaya.
Tiga bulan lalu, pihak manajemen Cito memang mendatangi sekolah dan menyatakan memberikan bantuan berupa air conditioner (AC) untuk empat kelas yang terpolusi bau tak sedap. Tapi sesuai pertimbangan lingkungan, pihak sekolah menunda penerimaan bantuan tersebut karena yang bermasalah semua kelas,” tutur Umitrah.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya Agustin Poliana mengatakan bahwa pihaknya melakukan inspeksi atas laporan pencemaran limbah dan bau menyengat dari SDN Dukuh Menanggal I.
“Sebenarnya, kemarin (Senin, 5/9, Red) kami sudah lakukan hearing bersama SDN Dukuh Menanggal dan Badan Lingkungan Hidup (BLH). Tapi, pihak manajemen Cito mangkir. Alasannya, surat tidak diterima. Lha kalau (surat) tidak diterima, kenapa BLH bisa hadir,” tegas Agustin yang memimpin sidak Komisi D ke sekolah.
Tak hanya meninjau lokasi kelas-kelas yang terpolusi bau tak sedap, dalam sidak itu, Komisi D juga menelusuri asal bau menyengat ke pembuangan limbah Cito. Sekitar 50 meter dari sekolah tepatnya di gang sebelah sekolah, memang ditemukan gudang sampah basah berukuran 2x3 meter persegi.
Geram dengan kondisi gudang penimbunan sampah yang belum dikelola baik, Komisi D pun mendatangi pihak manajemen mal tersebut. Dalam proses diskusi yang cukup rumit itu, Komisi D menuntut pihak Cito untuk melakukan pengelolaan limbah dengan baik. Hal itu sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) No 2 Tahun 2005 tentang perencanaan bangunan gedung.
“Cito menyalahi aturan dan melanggar ketentuan yang ada. Kalau tidak segera diselesaikan, maka akan kami cabut izin mereka,” kata Agustin Poliana. Sebab menurut dia, jika hal itu dibiarkan akan membahayakan kesehatan masyarakat dan siswa di lingkungan sekolah.
“Keberadaan sampah itu mengganggu proses belajar mengajar di sekolah,” tandas politisi PDIP ini. Anggota Komisi D Reni Astuti menambahkan bahwa selain terancam akan dicabut izinnya, Cito juga mendapat ancaman denda minimal Rp 50 juta sesuai perda. “Kami minta mereka bertanggung jawab,” kata politisi PKS ini.
Dituding tidak melakukan pengelolaan limbah sampah dengan baik, manajemen Cito menampik tuduhan tersebut. Operational Cito Rudianto mengatakan bahwa manajemen merasa bila pengelolaan limbah sudah sesuai dengan ketentuan atau SOP (standard operational procedure).
Menurut Rudianto, selama ini pihaknya sudah membuang sampah ke tempat pembuangan akhir sebanyak dua kali sehari. “Sudah sesuai. Kemungkinan, bau menyengat itu karena proses pengangkutan limbah sampah ke dalam truk. Saat dibuka itulah, bau menyengat dan menyebar,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku bau sampah itu cuma sebentar dan segera hilang. “Sebentar saja kok baunya, tidak sampai lama,” tandas Rudianto.
Pihak Cito juga mengklaim sudah melakukan penyemprotan dengan cairan kimia ke lokasi penimbunan sampah basah supaya bau menyengat bisa hilang. ”Biasanya kami lakukan pada sore hari,” ucap Rudianto.
Dia menambahkan bahwa selama ini pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pihak SDN Dukuh Menanggal I untuk menjaga kebersihan. "Kami rutin membersihkan sungai di dekat pemukiman warga termasuk di dekat sekolah. Kami tidak mungkin membiarkannya," ujarnya.
Disinggung tentang rencana pemindahan lokasi penimbunan sampah basahnya yang menimbulkan bau menyengat, Rudianto tidak bisa berkomentar. Menurutnya, hal itu harus seizing dengan pihak manajemen kantor pusat di Jakarta. (han/jay)
(http://radarsurabaya.jawapos.com/read/2016/09/06/3316/sampahnya-ganggu-sekolah-cito-disidak-dewan/3)
Berita 10 :
Hebat, Masih Kecil Sudah Berprestasi
Radar Gresik/JawaPos.com
PENGHARGAAN : 2 Siswa SDIT AL Huda meraih prestasi juara I dan II O2SN tingkat Kabupaten Gresik.
BAWEAN - Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Huda Sangkapura berhasil mencetak olahragawan berprestasi.
Prestasi yang telah diraihnya membawa harum nama Pulau Bawean. Tahun ini, 2 siswanya berhasil meraih juara atletik kids O2SN tingkat Kabupaten Gresik, yaitu Taufiq Hidayat (kelas V) juara I putra dan Naila Alvin (kelas V) juara II putri.
Sedangkan tahun sebelumnya, Sony Indra Gunawan berhasil juara II atletik kid’s O2SN tingkat Provinsi Jawa Timur.
Pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kecamatan Sangkapura mereka mendapat penghargaan. Selanjutnya Taufiq Hidayat bakal mewakili kabupaten Gresik ke tingkat Provinsi Jawa Timur.
Prestasi yang diraih oleh siswa SDIT Al Huda tidak terlepas dari sang guru olahraga yang mendidiknya. Amilatul Husna (29 th) sebagai guru olahraga mengatakan bersyukur atas prestasi siswanya dalam mengikuti kejuaraan O2SN tingkat Kabupaten Gresik.
Melaui kerja kerasnya, prestasi olahraga cabang atletik kids selalu diraihnya, baik tingkat kabupetan Gresik sampai Provinsi Jawa Timur.
Mantan guru olahraga di SMA Miftahul Ulum Bunga Gresik menyatakan tujuan kedatangannya di Pulau Bawean tahun 2012 hanya untuk mendampingi sang suami yang mengajar di SMPN I Sangkapura.
Kemudian mendapat tawaran dari ketua Yayasan Pendidikan Islam Al Huda untuk mengajar sebagai guru olahraga di SDIT Al Huda. Selanjutnya tahun 2013 aktif mengajar.
Tahun ini telah berhasil menghantarkan 2 siswa putra dan putri mengikuti pertandingan atletik kids tingkat Kabupaten Gresik.
“Walaupun hanya 1 siswa yang lolos untuk mewakili kabupaten Gresik mengikuti atletik kids O2SN tingkat Provinsi Jawa Timur,”katanya.
Bawean memiliki potensi khususnya dibidang olahraga. Alasannya di Pulau Bawean sangat mendukung lingkungannya.
“Lahannya sangat luas untuk berlatih, lain halnya di perkotaan yang sudah sempit,” paparnya. (bst/rtn)
(http://radarsurabaya.jawapos.com/read/2016/05/04/1338/hebat-masih-kecil-sudah-berprestasi/2)
erita Pendidikan di Indonesia
Berita 1 :
Pelajar Palembang Ciptakan Papan Partikel Tahan Api
Liputan6.com, Palembang Kreativitas pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) di Palembang dalam riset ilmu fisika kembali mendapatkan penghargaan. Kali ini, siswa SMA Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) mendapat Gold Medal di ajang Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) pada Febuari 2017 lalu.
Jaya Firmansyah, siswa kelas 11 dan Surya Bima Wicaksana, siswa kelas 10 SMAN Sumsel berhasil membuat papan partikel dari limbah tumbuhan. Bahkan, papan partikel yang dibuatnya kedua siswa berprestasi ini bisa tahan api.
Bahan yang digunakan adalah sabut kelapa limbah tongkol jagung yang didapat di pasar tradisional dekat sekolah. Kedua bahan ini dicampur dengan Aquadest dan Lem VVIC, lalu dipadatkan dan membentuk prototype papan partikel berdiameter 9 cm.
Untuk mendapatkan partikel terkecil, limbah tongkol jagung diparut, diblender dan disaring. Seluruh bahan dicampur, dicetak, dan dimasukkan ke dalam oven agar mengeras.
"Biasanya papan partikel sering dibuat dari sekam padi. Tapi kita mengantinya dengan bahan yang lebih tahan lama dan ada keunggulannya," ujar Surya Bima Wicaksana kepada Liputan6.com, saat dijumpai di Laboratorium Fisika SMAN Sumsel, Rabu5 April 2017.
Untuk membuat papan partikel tersebut tahan api, mereka mengoleskan Natrium Silikat (Na2SiO3) ke seluruh lapisan papan partikel. Papan partikel tersebut lalu dikeringkan di suhu ruangan.
Saat dilakukan tes uji bakar, lapisan Natrium Silikatnya menghambat api membakar papan partikel. Bahkan, apinya hanya berkobar di satu titik dan hanya menyisakan noda putih.
Mereka juga sudah menguji ketahanan papan partikelnya di laboratorium Politeknik Sriwijaya Palembang. Hasil uji tariknya yaitu 11 Kg/detik, Uji pantul 3.220 Newton dan uji lentur 17,5 Persen.
"Hasil uji tarik dan uji tekan papan partikel kita sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI)," ungkapnya.
Fadli Ardiano, Asisten Laboratirium Fisika SMAN Sumsel mengatakan, hasil karya siswa ini akan dilombakan di ajang internasional.
"Kita akan membuat video dokumentasi tentang riset papan partikel tahan api ini. Nanti dokumennya akan dikirim ke panitia di Belanda. Hasilnya akan diumumkan di bulan Juni 2017 mendatang," katanya.
(http://regional.liputan6.com/read/2910945/pelajar-palembang-ciptakan-papan-partikel-tahan-api)
Berita 2 :
Membanggakan Ada Mahasiswa Indonesia Di Pusat Penelitian Dunia
Liputan6.com, Jakarta Tak hanya kaya akan keindahan alam, Indonesia juga kaya akan sumber daya manusia yang mengagumkan. Tidak bisa dilihat sebelah mata, salah satu generasi muda Indonesia bahkan berhasil bergabung dengan pusat penelitian sains terbesar di dunia.
Mahasiswa Teknik Komputer Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) I Made Sanadhi Sutandi berhasil mewakili Indonesia untuk berpartisipasi dalam kegiatan “OpenLab Summer Research Program 2016” di CERN - salah satu Pusat Riset Komputasi & Partikel Fisika terbesar di dunia.
Sanadhi (21) berhasil menggungguli 1.461 mahasiswa lainnya dari seluruh dunia ini, akan terlibat secara langsung dalam proyek pengembangan sistem IT selama delapan minggu mulai dari 20 Juni hingga 21 Agustus 2016 di Jenewa, Swiss.
CERN (Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire) atau dalam bahasa Indonesia berarti Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir telah memberikan sumbangsih dan kontribusi nyata terhadap ilmu pengetahuan, diantaranya teknologi www (web) yang saat ini sudah menjadi bagian besar dalam kehidupan manusia.
Selain itu, CERN juga berkontribusi pada penemuan partikel Higgs Boson yang mendapatkan hadiah Nobel Fisika tahun 2013 serta penemuan Super Symmetry dan Quark-Gluon Plasma yang menunjukkan fenomena pembentukan alam semesta.
Sanadhi, menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Selasa (19/4/2016) mengatakan, “Pencapaian ini merupakan peluang emas karena saya dapat belajar langsung dengan para pakar di bidang teknologi serta melihat dan merasakan langsung teknologi dan inovasi yang ada diseluruh dunia. Saya yakin dan mantap untuk menyerap ilmu dan membangun network sebanyak-banyaknya saat bekerja disana agar ilmu pengetahuan ataupun hardskill dan softskill saya dapat teruji dengan baik."
Lebih lanjut, Sanadhi mengungkapkan selama kegiatan berlangsung, ia akan memperoleh sejumlah topik perkuliahan serta dilibatkan langsung pada proyek penelitian bersama dengan peneliti CERN. Hal ini dilakukan untuk mendalami domain keilmuan yang menjadi kebutuhan utama pada infrastruktur IT seperti Data Acquisition, Computing Platforms, Data Storage Architectures, Compute Provisioning and Management, Networks and Communication dan Data Analytics. Indonesia bangga memiliki generasi muda berprestasi.
(http://lifestyle.liputan6.com/read/2487079/membanggakan-ada-mahasiswa-indonesia-di-pusat-penelitian-dunia)
Berita 3 :
Lewat Dongeng Siswa Diajari Tentang Proses Pengolahan Minyak
BALIKPAPAN, KOMPAS.com – Yoga Pratama memainkan boneka tangan katak hijau di hadapan siswa kelas 2 di SD 008 di Balikpapan Tengah, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Dodo, begitu pekerja bagian hydro cracking complex (HCC) atau destilasi minyak di Kilang Minyak Balikpapan PT Pertamina (Persero) ini menamai si katak hijau.
Si Dodo menjelaskan bagaimana panjangnya perjalanan minyak itu dari mulai disedot dari dalam sumur, mengalir hingga kilang pengolahan, lantas jadi minyak siap didistribusi di stasiun pengisian bahan bakar umum.
Dodo yang imut di tangan Yoga tidak membuat kantuk. Anak-anak tergoda mendekat, melihat dari dekat dan mendengarkan cerita tentang Pertamina dan perannya pada masyarakat.
“Kalau ditanya, anak-anak semula tahunya Pertamina itu hanya tukang isi bensin di SPBU. Kini kita bangun pengetahuan dan sekaligus brand image bahwa kita ini perusahaan nasional yang memiliki bidang luas,” kata Yoga, Senin (8/5/2017).
Yoga, satu dari 85 relawan Pertamina yang mendadak jadi guru singkat di lima sekolah dasar di Balikpapan, Senin siang. Mereka mendatangi SD Patra Dharma 3, SDN 8 Balikpapan Tengah, SDN 1 Balikpapan Tengah, SDN 5 Balikpapan Barat dan SDN 9 Balikpapan Barat.
Yoga mengatakan, para relawan itu tengah menjalani program Pertamina Energi Negeri (PEN) 2 yang juga berlangsung di delapan lokasi operasional Pertamina lain, yakni: Palembang, Jakarta, Indramayu, Surabaya, Semarang, Makassar, Jayapura, dan Sorong.
PEN melibatkan lebih dari 500 pekerja dari berbagai direktorat di Pertamina hingga anak perusahaan di sembilan kota itu. “Di sini bahkan ada yang datang dari Kalimantan Tengah,” kata Yoga.
Area Manager Communication & Relations Pertamina Kalimantan, Alicia Irzanova mengatakan, kegiatan ini menjadi agenda tahunan pekerja Pertamina sebagai kontribusi langsung pada masyarakat. Para pekerja membagi pengetahuan, mengenal profesi, menanamkan budi pekerti serta budaya safety yang disampaikan dengan cara menarik dan menyenangkan.
“Kegiatan ini juga memperkenalkan para relawan akan kenyataan dan fakta mengenai kondisi pendidikan Indonesia,” kata Alicia.
PEN, menurut Alicia, menjadi sebuah ajakan bagi pekerja Pertamina dan anak usahanya untuk bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan. Dengan kegiatan ini, para pekerja pun kian terpanggil untuk ikut memajukan pendidikan Indonesia serta menumbuhkan kecintaan terhadap negeri.
Selain itu, relawan bisa terbina melakukan aktivitas bermanfaat di luar jam kerjanya.
“Karenanya kegiatan sukarela ini diinisiasi secara murni oleh pekerja-pekerja Pertamina,” katanya.
Relawan itu tidak langsung terjun begitu saja. Para relawan harus melewati pembekalan product knowledge hingga soal public speaking.
(http://regional.kompas.com/read/2017/05/08/19312061/lewat.dongeng.siswa.sd.diajari.tentang.proses.pengolahan.minyak)
Berita 4 :
Bocah-Bocah Ini Belajar Sambil Menggendong Adiknya
MEDAN, KOMPAS.com – Boisman Gori, baru duduk di kelas lima sekolah dasar. Setiap masuk ke kelas tak jarang dia sambil menggendong adiknya.
Gori tinggal di Puncak Lolomatua, dataran tertinggi di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.
"Saat saya mengajar, dia (Gori) selalu memeluk dan mencium kepala adiknya,” cerita Indri Rosidah, kepada Tribun Medan, Selasa (2/5/2017).
Indri merupakan alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang sedang mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) yang mengajar di Puncak Lolomatua.
Selain Gori, di tempat perempuan asal Bandung ini mengajar, ada Latina Ndruru. Bocah perempuan ini juga kerap membawa adik bungsunya ke sekolah.
Latina anak ketiga dari tujuh bersaudara, kehidupan orangtuanya cukup memperihatinkan.
“Lantai rumah orang tuanya Latina masih tanah. Artinya, tidak gunakan semen sebagaimana rumah kebanyakan orang. Kemudian dinding rumahnya masih tepas, beratap rumbia dan rumah mereka paling dekat dengan sekolah ini,” kata Rosidah.
Dibandingkan Latina, rumah Gori cukup lumayan, karena sudah berlantai semen dan beratap seng. Gori dan Latina membawa adik mereka ke sekolah bila kedua orangtua mereka ke ladang untuk menyadap getah ataupun pergi ke pasar.
"Anaknya penuh kesadaran, dan tabah hidup dalam keadaan serba kekurangan. Saya terkesima melihat kondisi siswa-siswi di sini,” sebut Indri.
Boisman Gori, siswa kelas V SD Puncak Lolomatua, Ulonoyo, Kabupaten Nias Selatan, kerap membawa menggendong adiknya ke sekolah, sementara orangtuanya menyadap karet atau pergi ke pasar.
Boisman Gori, siswa kelas V SD Puncak Lolomatua, Ulonoyo, Kabupaten Nias Selatan, kerap membawa menggendong adiknya ke sekolah, sementara orangtuanya menyadap karet atau pergi ke pasar. ( TRIBUN MEDAN/JEFRI SUSETIO)
Jarang yang Berbahasa Indonesia
Indri mengaku masyarakat yang sangat ramah dan menghormati pendatang berbeda suku dan keyakinan, membuatnya kerasan mengajar di Puncak Lolomatua.
“Saya menikmati suasana di sini, kebetulan saya tinggal di rumah warga dan respons masyarakat sangat bagus," sebutnya.
"Saya orang pertama Muslim yang tinggal di kampung ini. Awalnya takut tapi alhamdulilah, tidak ada kesulitan apapun,” tambah dia.
Sudah delapan bulan dia menjadi peserta program SM3T dan mengajar di Puncak Lolomatua. Selama itu ia sedikitnya memahami bahasa lokal. Awal mengajar, bukan main bingungnya Indri karena banyak murid tak bisa berbahasa Indonesia.
Berbilang hari, minggu dan bulan, Indri paham murid-murid tak pandai berbahasa Indonesia karena orang tua mereka pun tak bisa. Hanya mereka sering bepergian ke kota yang dapat berbahasa Indonesia.
(http://regional.kompas.com/read/2017/05/03/12120021/bocah-bocah.ini.belajar.di.sekolah.sambil.menggendong.adiknya)
Berita 5 :
Kado Tas Presiden Jokowi di Perbatasan
Liputan6.com, Jakarta - "Pak Jokowi, minta tas," pesan singkat dari siswa Sekolah Dasar Negeri 4 di Desa Sungkung, Kecamatan Siding, Kabupaten, Bengkayang, Kalimantan Barat. Para siswa SD di perbatasan ini mengharapkan sedikit bantuan dari sang Presiden untuk membelikan mereka sebuah tas.
Potret miris di Tanah Air, ketika banyak anak memiliki beberapa tas sekolah di rumahnya yang terpajang tak terpakai, tetapi anak-anak di perbatasan ini tidak memiliki satu tas pun untuk membawa keperluan belajar mereka ke sekolah.
Kondisi ini terkuak ketika seorang guru bantu untuk wilayah perbatasan melalui akun Instagram @anggitpurwoto mengunggah video siswa SDN 4 Sungkung yang meminta tas tersebut.
Dengan balutan seragam yang sudah lusuh, Revan, Heri Aprianto, Jhembo, Eligen Thomas menyampaikan harapannya memiliki tas sekolah. Keempat siswa ini terlihat menjinjing kantong plastik kresek menggantikan tas sekolah dan hanya menggunakan sandal jepit.
Mendadak, video ini menjadi viral di media sosial. Rupanya, video 'Minta Tas' ini juga dilihat Presiden Jokowi. Bak gayung bersambut, Jokowi segera meminta sekretarisnya menyiapkan kado tas dan perlengkapan sekolah lainnya untuk siswa-siswa SD perbatasan ini.
(http://news.liputan6.com/read/2919781/kado-tas-presiden-jokowi-di-perbatasan)
Berita 6 :
42.622 Siswa SD/Madrasah di Surabaya Siap US, Dindik Ingatkan seperti ini kepada Penyelenggara
Selasa, 9 Mei 2017 20:02
surya/sulvi sofiana
Kepala Dinas Pendidikan M Iksan dalam sebuah kesempatan.
SURYA.co.id | SURABAYA - Ujian Sekolah (US) tingkat sekolah dasar dan masdrasah akan dilaksanakan pada Senin (15/5/2017). US tahun ini diikuti 860 lembaga, Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Surabaya Jumat besok (12/5/2017) akan mulai menerima soal ujian.
“Soal US akan dipilah per sekolah dan per subrayon, selanjutnya akan disimpan sementara di polsek. Dan pada pelaksanaan hari H-nya nanti sub rayon mendistribusikan soal ke sekolah-sekolah,” Jelas Kepala Dindik Kota Surabaya, Ikhsan, Selasa (9/5/2017).
Mantan Kepala Bapemas dan KB Kota Surabaya tersebut menerangkan pelaksanaan US di Surabaya diikuti 42.622 siswa.
Ia pun berpesan juga agar para siswa tetap menjaga nilai-nilai kejujuran (integritas) selama pelaksananaan US/M meskipun masih berbasis kertas.
“Pada pelaksanaan US nanti diingatkan kepada ketua sub rayon, kepala sekolah, dan pengawas ruangan agar menjalankan POS dengan baik,”tegasnya ketika dikonfirmasi SURYA.co.id, Selasa (9/5/2017).
Kasi Kurikulum Sekolah Dasar Munaiyah berujar pembuatan soal US telah melewati berbagai tahapan.
Apalagi Dindik ikut membuat naskah soal tersebut. Mulai dari penyusunan soal, review soal, sampai dengan evaluasi soal dilakukan oleh tim yang sudah disiapkan.
“Untuk persiapan ujian sekolah ini, para siswa juga telah melakukan latihan try out, baik yang melalui try out online Dindik ataupun latihan try out bersama guru di sekolah. Dindik sebelumnya juga telah menyediakan 34 paket soal latihan try out online,”lanjutnya.
(http://surabaya.tribunnews.com/2017/05/09/42622-siswa-sdmadrasah-di-surabaya-siap-us-dindik-ingatkan-seperti-ini-kepada-penyelenggara)
Berita 7 :
Cara Unik Siswa SAIM Peringati Hari Buku Dunia, begini Bentuknya
Selasa, 25 April 2017 20:34
surya/habibur rohman
BUKU & PERMAIANAN - Siswa menyumbangkan buku serta melanjutkan mengikuti permainan di Sekolah Alam Insan Mulia (Saim) Surabaya,Selasa (25/4/2017).
SURYA.co.id | SURABAYA - Suasana layaknya taman bermain terlihat di halaman Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM), Selasa (25/4/2017).
Berbeda dengan taman bermain yang berisi mainan jungkat-jungkit dan ayunan.
Para siswa bermain permainan bowling, lempar cincin, dan engklek.
Setiap berhasil bermain mereka bisa mendapat beragam hadiah. Mulai dari penghapus, pensil, buku, dan lainnya.
Untuk bermain mereka harus membawa tiket, tiket inilah kunci kegiatan diadakan Achmad Tsaqib Arifudin, siswa kelas 2 SMA SAIM dan 11 temannya.
Untuk mendapat tiket ini, setiap siswa harus menyumbangkan 1 buku bacaan.
Mulai dari buku pelajaran, dongeng, cerita anak-anak, hingga komik.
“Sekalian memperingati hari buku, kami ingin menggalang sumbangan buku perpustakaan di Ranu Pane,” jelasnya, Selasa (25/4/2017).
Mengambil nama kegiatan Ruang Baca Tanpa Batas, Tsaqib dan teman-temannya ingin meningkatkan mibat baca di kawadan Ranu Pane, Lumajang.
Pasalnya, setiap tahun, siswa SAIM melakukan pendakian melewati Ranu Pane. Mereka hanya melihat 1 sekolah untuk siswa SD,SMP dan TK.
“Kami survei kesana, ada 6 kelas disana. 1 ruang guru dan 1 perpustakaan. Kalau kondisi sekolah dan perpus memang sangat kurang, bangku banyak yang rusak,” jelasnya.
Mereka akhirnya berinisiatif secara berkala membantu sekolah tersebut. Mulai dari menambah buku di perpustakaan dengan sumbangan siswa SAIM.
Selain itu mereka juga membuat proposal pada pihak luar agar mendapat dana bantuan atau tambahan buku.
“Kalau dapat uang juga akan kami belikan perlengkapan buat perpustakaan. Disana nggak ada lemari juga,”terangnya.
Penanggung jawab acara, Febriana Adam, menjelaskan kegiatan siswa ini dilakukan sebagai proyek yang menjadi tugas siswa.
Mereka bisa melakukan beragam kegiatan,kewirausahaan charity dna lainnya. Setiap Jumat siswa SMA SAIM memiliki waktu 6 jam untuk mendiskusikan proyek mereka.
“Kami para guru hanya membimbing, idenya semua dari mereka. Seperti kegiatan kali ini metrka ingin membantu siswa di daerah lain yang membutuhkan dengan melibatkan seluruh warga SAIM,”jelasnya.
(http://surabaya.tribunnews.com/2017/04/25/cara-unik-siswa-saim-peringati-hari-buku-dunia-begini-bentuknya?page=2)
Berita 8 :
Siswa SD Datangi Pedagang Pasar Ucapkan Selamat Hari Kartini Sembari Lakukan Ini
Jumat, 21 April 2017 11:56
surya/ahmad zaimul haq
Salah seorang siswa memberikan bingkisan sembako kepada pedagang perempuan, Jumat (21/4/2017).
SURYA.co.id | SURABAYA - Pasar Krempyeng Bendul Merisi Besar Selatan, Surabaya didatangi 150 siswa SD Muhammadiyah 6 Surabaya, Jumat (21/4/2017).
Mereka tidak berbelanja, namun siswa-siswa ini sengaja menemui para pedagang perempuan untuk memberikan sebuah bingkisan.
Mereka menyusur pasar lengkap dengan pakaian kebaya dan batik.
Salah satu siswa kelas lima, Alya Wahyu menghampiri Maftuha, seorang pedagang ayam potong. Alya memberikan sebuah bingkisan (sembako) dan mengucapkan "Selamat Hari Kartini".
"Selamat Hari Kartini ya bu," kata Alya, lalu disambut senyum dan ucapan terima kasih dari Maftuha.
Perayaan Hari Kartini, Siswa SD Muhammadiyah 6 memang berbeda.
Muhammad Askan, ketua panitia acara menuturkan, melalui berbagi semacam ini, anak-anak bisa mengerti peran Kartini secara utuh.
"Sebelumnya kami mengajak beberapa anak untuk observasi ke pasar. Lalu anak-anak menyimpulkan para pedagang itu juga sepatutnya merayakan Hari Kartini. Mengingat perannya yang besar, mencari nafkah untuk keluarga," jelasnya.
Askan menambahkan sebelum sampai di pasar, 400 siswa di antaranya siswa kelas satu sampai enam melakukan long march, memakai busana adat Jawa.
Rutenya mulai sekolah, RSAL, pasar Krempyeng dan kembali ke sekolah lagi.
"Di pertengahan jalan siswa kelas satu sampai kelas empat, kembali ke sekolah. Sementara kelas lima dan enam berbagi bingkisan ke pasar," terangnya.
Bingkisan yang mereka bawa bermacam. Ada sembako, kerudung, aksesoris, dan masih banyak lagi.
Aksan menerangkan sekolah memang tidak menentukan barang apa yang harus dibawa.
"Kami hanya memberikan minimal harga karena tidak semua orangtua wali murid sama mampunya. Selain bingkisan mereka juga menyematkan surat. Isinya adalah doa, misalnya surat milik Alya. Dia berdoa agar ibu itu diberikan kesehatan dan kekuatan menjalankan ibadahnya mencari nafkah," tutupnya.
(http://surabaya.tribunnews.com/2017/04/21/siswa-sd-datangi-pedagang-pasar-ucapkan-selamat-hari-kartini-sembari-lakukan-ini)
Berita 9 :
Sampahnya Ganggu Sekolah, Cito Disidak Dewan
Andy Satria/Radar Surabaya
TUTUP HIDUNG: Sejumlah siswa kelas VI SDN Dukuh Menanggal I terpaksa menutup hidung saat mengikuti kegiatan belajar di kelas, Selasa (6/9), karena terganggu bau tak sedap dari pengelolaan limbah sampah di Cito .
SURABAYA – Dianggap tak memperhatikan lingkungan dalam pengolahan limbahnya, manajemen mal City of Tomorrow (Cito) dilaporkan ke DPRD Surabaya. Untuk merespons laporan itu, Selasa (6/9), Komisi D melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SDN Dukuh Menanggal I di Jalan Dukuh Menanggal, Gayungan, Surabaya.
Hasilnya, komisi bidang kesejahteraan rakyat (kesra) itu menemukan di kelas V dan VI tercium bau tak sedap yang berasal dari samping sekolah yang berdekatan dengan tempat pembuangan limbah dan sampah milik pusat perbelanjaan di kawasan bundaran Waru tersebut.
“Baunya bikin muntah. Kayak bau bensin, solar dan sampah bekas makanan, bahkan kotoran manusia. Pernah kami sampai tidak bisa masuk kelas gara-gara bau tidak enak seperti ini,” keluh Rini Ardianti, 10, siswi kelas V B.
Bahkan akibat bau yang tidak nyaman itu, ada beberapa rekannya yang mual-mual dan muntah. Beberapa bahkan mengeluhkan pusing dan sesak napas. Menurut dia, bau tak sedap itu biasa muncul pada waktu jam-jam pelajaran mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.
Kepala SDN Dukuh Menanggal I Umitrah mengatakan bahwa sebenarnya pihak sekolah sudah mendatangi manajemen Cito, beberapa bulan lalu, untuk menyampaikan keluhan bau tak sedap tersebut.
Namun, pihak manajemen Cito tak memperbaiki sistem pengolahan limbahnya. Sebaliknya, pihak manajemen malah mendatangi sekolah dan memberikan bantuan empat unit alat pendingin udara (AC). Hingga akhirnya, pihak sekolah memutuskan mengirim surat laporan resmi ke DPRD Surabaya.
Tiga bulan lalu, pihak manajemen Cito memang mendatangi sekolah dan menyatakan memberikan bantuan berupa air conditioner (AC) untuk empat kelas yang terpolusi bau tak sedap. Tapi sesuai pertimbangan lingkungan, pihak sekolah menunda penerimaan bantuan tersebut karena yang bermasalah semua kelas,” tutur Umitrah.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya Agustin Poliana mengatakan bahwa pihaknya melakukan inspeksi atas laporan pencemaran limbah dan bau menyengat dari SDN Dukuh Menanggal I.
“Sebenarnya, kemarin (Senin, 5/9, Red) kami sudah lakukan hearing bersama SDN Dukuh Menanggal dan Badan Lingkungan Hidup (BLH). Tapi, pihak manajemen Cito mangkir. Alasannya, surat tidak diterima. Lha kalau (surat) tidak diterima, kenapa BLH bisa hadir,” tegas Agustin yang memimpin sidak Komisi D ke sekolah.
Tak hanya meninjau lokasi kelas-kelas yang terpolusi bau tak sedap, dalam sidak itu, Komisi D juga menelusuri asal bau menyengat ke pembuangan limbah Cito. Sekitar 50 meter dari sekolah tepatnya di gang sebelah sekolah, memang ditemukan gudang sampah basah berukuran 2x3 meter persegi.
Geram dengan kondisi gudang penimbunan sampah yang belum dikelola baik, Komisi D pun mendatangi pihak manajemen mal tersebut. Dalam proses diskusi yang cukup rumit itu, Komisi D menuntut pihak Cito untuk melakukan pengelolaan limbah dengan baik. Hal itu sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) No 2 Tahun 2005 tentang perencanaan bangunan gedung.
“Cito menyalahi aturan dan melanggar ketentuan yang ada. Kalau tidak segera diselesaikan, maka akan kami cabut izin mereka,” kata Agustin Poliana. Sebab menurut dia, jika hal itu dibiarkan akan membahayakan kesehatan masyarakat dan siswa di lingkungan sekolah.
“Keberadaan sampah itu mengganggu proses belajar mengajar di sekolah,” tandas politisi PDIP ini. Anggota Komisi D Reni Astuti menambahkan bahwa selain terancam akan dicabut izinnya, Cito juga mendapat ancaman denda minimal Rp 50 juta sesuai perda. “Kami minta mereka bertanggung jawab,” kata politisi PKS ini.
Dituding tidak melakukan pengelolaan limbah sampah dengan baik, manajemen Cito menampik tuduhan tersebut. Operational Cito Rudianto mengatakan bahwa manajemen merasa bila pengelolaan limbah sudah sesuai dengan ketentuan atau SOP (standard operational procedure).
Menurut Rudianto, selama ini pihaknya sudah membuang sampah ke tempat pembuangan akhir sebanyak dua kali sehari. “Sudah sesuai. Kemungkinan, bau menyengat itu karena proses pengangkutan limbah sampah ke dalam truk. Saat dibuka itulah, bau menyengat dan menyebar,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku bau sampah itu cuma sebentar dan segera hilang. “Sebentar saja kok baunya, tidak sampai lama,” tandas Rudianto.
Pihak Cito juga mengklaim sudah melakukan penyemprotan dengan cairan kimia ke lokasi penimbunan sampah basah supaya bau menyengat bisa hilang. ”Biasanya kami lakukan pada sore hari,” ucap Rudianto.
Dia menambahkan bahwa selama ini pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pihak SDN Dukuh Menanggal I untuk menjaga kebersihan. "Kami rutin membersihkan sungai di dekat pemukiman warga termasuk di dekat sekolah. Kami tidak mungkin membiarkannya," ujarnya.
Disinggung tentang rencana pemindahan lokasi penimbunan sampah basahnya yang menimbulkan bau menyengat, Rudianto tidak bisa berkomentar. Menurutnya, hal itu harus seizing dengan pihak manajemen kantor pusat di Jakarta. (han/jay)
(http://radarsurabaya.jawapos.com/read/2016/09/06/3316/sampahnya-ganggu-sekolah-cito-disidak-dewan/3)
Berita 10 :
Hebat, Masih Kecil Sudah Berprestasi
Radar Gresik/JawaPos.com
PENGHARGAAN : 2 Siswa SDIT AL Huda meraih prestasi juara I dan II O2SN tingkat Kabupaten Gresik.
BAWEAN - Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Huda Sangkapura berhasil mencetak olahragawan berprestasi.
Prestasi yang telah diraihnya membawa harum nama Pulau Bawean. Tahun ini, 2 siswanya berhasil meraih juara atletik kids O2SN tingkat Kabupaten Gresik, yaitu Taufiq Hidayat (kelas V) juara I putra dan Naila Alvin (kelas V) juara II putri.
Sedangkan tahun sebelumnya, Sony Indra Gunawan berhasil juara II atletik kid’s O2SN tingkat Provinsi Jawa Timur.
Pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kecamatan Sangkapura mereka mendapat penghargaan. Selanjutnya Taufiq Hidayat bakal mewakili kabupaten Gresik ke tingkat Provinsi Jawa Timur.
Prestasi yang diraih oleh siswa SDIT Al Huda tidak terlepas dari sang guru olahraga yang mendidiknya. Amilatul Husna (29 th) sebagai guru olahraga mengatakan bersyukur atas prestasi siswanya dalam mengikuti kejuaraan O2SN tingkat Kabupaten Gresik.
Melaui kerja kerasnya, prestasi olahraga cabang atletik kids selalu diraihnya, baik tingkat kabupetan Gresik sampai Provinsi Jawa Timur.
Mantan guru olahraga di SMA Miftahul Ulum Bunga Gresik menyatakan tujuan kedatangannya di Pulau Bawean tahun 2012 hanya untuk mendampingi sang suami yang mengajar di SMPN I Sangkapura.
Kemudian mendapat tawaran dari ketua Yayasan Pendidikan Islam Al Huda untuk mengajar sebagai guru olahraga di SDIT Al Huda. Selanjutnya tahun 2013 aktif mengajar.
Tahun ini telah berhasil menghantarkan 2 siswa putra dan putri mengikuti pertandingan atletik kids tingkat Kabupaten Gresik.
“Walaupun hanya 1 siswa yang lolos untuk mewakili kabupaten Gresik mengikuti atletik kids O2SN tingkat Provinsi Jawa Timur,”katanya.
Bawean memiliki potensi khususnya dibidang olahraga. Alasannya di Pulau Bawean sangat mendukung lingkungannya.
“Lahannya sangat luas untuk berlatih, lain halnya di perkotaan yang sudah sempit,” paparnya. (bst/rtn)
(http://radarsurabaya.jawapos.com/read/2016/05/04/1338/hebat-masih-kecil-sudah-berprestasi/2)